Amerika Serikat dan Iran memasuki fase paling sensitif dalam hubungan bilateral mereka dalam beberapa tahun terakhir. Perundingan terkait program nuklir Iran dijadwalkan berlangsung Jumat (6/2/2026) di Oman, di tengah meningkatnya tekanan militer Washington dan risiko eskalasi konflik terbuka di Timur Tengah.
Diplomat regional mengatakan pembicaraan akan menjadi penentu apakah jalur diplomasi masih dapat menahan potensi konfrontasi langsung. Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara meningkatkan retorika keras dan aktivitas militer di kawasan strategis, termasuk Laut Arab dan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa “hal buruk” bisa terjadi jika kesepakatan gagal dicapai. Pernyataan tersebut memperkuat sinyal tekanan terhadap Teheran, yang menghadapi tuntutan Washington terkait program nuklir, rudal balistik, dan pengaruh regionalnya.
Garis Merah Iran, Syarat Keras Washington
Iran menegaskan program rudal balistiknya tidak dapat dinegosiasikan. Posisi tersebut menjadi salah satu hambatan utama, karena Washington menjadikannya bagian dari syarat kesepakatan.
Menurut sumber yang mengetahui proses negosiasi, pemerintah AS mengajukan tiga tuntutan utama: penghentian pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, dan penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi regional. Teheran menilai tuntutan tersebut melanggar kedaulatan nasional.
Laporan Axios menyebut lokasi perundingan dipindahkan dari Turki ke Oman atas permintaan Iran. Pembahasan juga masih berlangsung mengenai kemungkinan keterlibatan negara-negara Arab, meski Teheran dilaporkan lebih menginginkan pembicaraan bilateral langsung dengan Washington.
Trump mengonfirmasi negosiasi sedang berlangsung. “Kami sedang bernegosiasi dengan mereka sekarang,” katanya di Gedung Putih, Selasa (3/2/2026).
Sumber diplomatik menyebut Jared Kushner akan terlibat dalam perundingan bersama Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Ketegangan di Lapangan Meningkat
Di tengah jalur diplomasi, insiden militer terus terjadi. Militer AS melaporkan sebuah drone Iran mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab sebelum ditembak jatuh oleh jet tempur F-35.
Komando Pusat AS juga melaporkan insiden terpisah di Selat Hormuz. Dua kapal Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan sebuah drone mendekati kapal tanker berbendera AS, M/V Stena Imperative, dalam manuver yang dinilai agresif.
Juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, mengatakan kapal Iran mendekat dengan kecepatan tinggi dan mengancam untuk naik ke tanker. Kelompok risiko maritim Vanguard menyebut kapal Iran sempat memerintahkan tanker mematikan mesin, namun kapal tersebut mempercepat laju dan melanjutkan pelayaran.
Insiden tersebut terjadi setelah serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, menyusul operasi militer Israel selama 12 hari. Iran menyatakan pengayaan uranium telah dihentikan dan program nuklirnya bersifat damai, namun Washington tetap mempertanyakan transparansi dan verifikasi.
Diplomasi di Ambang Ujian
Perundingan Oman dipandang sebagai titik krusial bagi stabilitas kawasan. Para analis menilai kegagalan diplomasi berpotensi mempercepat spiral eskalasi militer, sementara keberhasilan kesepakatan dapat menurunkan ketegangan yang telah meningkat selama berbulan-bulan.
Seorang pejabat regional mengatakan prioritas utama saat ini adalah mencegah konflik terbuka. “Fokusnya adalah de-eskalasi. Jika diplomasi gagal, risiko konfrontasi akan meningkat signifikan,” ujarnya.
Hasil perundingan diperkirakan tidak hanya menentukan arah hubungan AS–Iran, tetapi juga memengaruhi stabilitas energi global, jalur pelayaran strategis, dan keseimbangan geopolitik Timur Tengah dalam waktu dekat.