Oleh: Jhonfri Ariyantho, SH / Kontrol Sosial
Palangkaraya,Musim kemarau panjang kembali menguji ketahanan ekologis Kalimantan Tengah. Di tengah langit yang pekat oleh kabut asap, jeritan warga yang mendambakan udara bersih, serta kerja keras petugas di lapangan yang berjibaku memadamkan titik-titik api, publik kembali disuguhkan sebuah pemandangan yang mengundang ironi sekaligus senyum getir.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran bersama unsur Pangdam baru-baru ini tampak turun langsung ke lapangan melakukan aksi penanaman bibit pohon di kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Alih-alih mendapatkan apresiasi sebagai langkah solutif, aksi ini justru menuai kritik tajam dan dinilai sarat akan muatan pencitraan yang vulgar. Secara nalar ilmiah dan agronomi, langkah tersebut dinilai salah momentum, salah metode, dan jauh dari esensi penanganan karhutla yang sebenarnya.
1. Menanam di Puncak Kemarau: Antara Nalar Politik dan Abai Sains
Secara akal sehat dan kaidah botani, menanam bibit pohon di tengah musim kemarau ekstrem pada lahan bekas terbakar adalah sebuah bentuk kesia-siaan yang dibungkus retorika kepedulian lingkungan.
Dari sudut pandang ilmiah, tanah di area bekas kebakaran menyimpan masalah krusial yang menolak kehidupan vegetasi muda:
- Sifat Tanah Hidrofobik: Panas ekstrem dari api sisa kebakaran mengubah struktur tanah menjadi kedap air (water repellent). Akibatnya, air siraman maupun sisa kelembapan justru gagal meresap ke zona perakaran dan menguap begitu saja.
- Stres Kekeringan (Transplant Shock): Tanpa suplai air hujan yang memadai, sistem perakaran bibit yang belum mapan akan langsung mengalami dehidrasi parah dan mati dalam hitungan hari.
- Suhu Permukaan Ekstrem: Lahan terbuka tanpa naungan yang dipenuhi abu sisa kebakaran bertindak seperti oven. Suhu tanah yang panas membakar batang bibit muda (heat girdling), sementara mikroorganisme penting seperti mikoriza yang berfungsi menyerap hara telah musnah dilalap api.
Melihat fakta-fakta tersebut, klaim bahwa penanaman ini merupakan upaya “pemulihan lingkungan” di tengah puncak kemarau menjadi sangat tidak masuk akal. Ini bukan pemulihan; ini adalah teater ekologis di atas penderitaan alam.
2. Salah Sasaran: Saat Karhutla Membutuhkan Pemadaman, Bukan Perencanaan Seremoni
Kritik utama terhadap kegiatan ini terletak pada distorsi prioritas pemerintah daerah. Ketika status darurat kebakaran mengancam kesehatan masyarakat, merusak ekosistem gambut, dan melumpuhkan aktivitas publik, yang dibutuhkan rakyat bukanlah aksi simbolis menanam pohon di depan kamera, melainkan aksi taktis pemadaman, penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar lahan, serta penyediaan fasilitas kesehatan darurat bagi korban kabut asap.
Menanam pohon di atas bara yang belum sepenuhnya dingin—atau di atas lahan yang sedang dehidrasi akut—menunjukkan betapa para pemangku kebijakan sering kali lebih memilih simbol-simbol estetis ketimbang kerja-kerja teknis yang berat dan kotor di lini depan. Publik tidak butuh melihat pejabat memegang sekop di atas tanah berdebu; publik butuh melihat keberanian politik untuk menyelamatkan hutan yang masih tersisa dan menghentikan bencana tahunan ini secara struktural.
3. Panggung Pencitraan yang Melukai Nalar Publik
Sulit untuk tidak menyebut kegiatan ini sebagai bentuk pencitraan yang vulgar. Di saat ribuan warga Kalteng menderita karena sesak napas akibat asap, dan para relawan di lapangan kelelahan tanpa logistik yang memadai, para elite justru membuang energi untuk seremoni penanaman yang tingkat keberhasilan hidup tanamannya mendekati nol persen.
Pencitraan semacam ini justru mencederai wibawa institusi pemerintahan. Alih-alih menampilkan kepemimpinan berbasis data dan sains (evidence-based policy), aksi tersebut justru memperlihatkan kepemimpinan yang reaktif, simbolik, dan sekadar gugur kewajiban demi konten publikasi.
Catatan Penutup
Alam Kalimantan Tengah tidak bisa dipulihkan dengan pencitraan seremonial di depan sorotan kamera atau jepretan lensa humas. Pohon-pohon tidak akan tumbuh hanya karena ditanam oleh tangan seorang pejabat di atas tanah tandus tanpa air dan mikrobiota pendukung.
Jika pemerintah benar-benar serius ingin memulihkan Kalteng,hentikan gimik-gimik teatrikal yang kontraproduktif. Fokuskan seluruh sumber daya pada pencegahan yang komprehensif, perlindungan ekosistem gambut, penegakan hukum tanpa kompromi, dan pertolongan nyata bagi masyarakat yang menjadi korban dari kabut asap. Sebab, alam tidak bisa dibohongi oleh pencitraan politik; ia hanya merespons apa yang kita perbuat secara nyata.












Komentar