Siswa SMP Al Madinah Diduga Jadi Korban Pengeroyokan di Asrama, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

- Penulis

Jumat, 18 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

LIPUTANKHUSUS.COM – Dugaan kasus perundungan dan pengeroyokan kembali menjadi perhatian di lingkungan SMP Al Madinah Islamic Boarding School, Nagari Koto Gadang Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Seorang siswa kelas VII berinisial RBA dilaporkan mengalami dugaan pengeroyokan yang dilakukan sejumlah teman sekamarnya pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Korban disebut mengalami luka dan lebam di sejumlah bagian tubuh, bahkan sempat mengalami muntah darah.

Menurut keterangan keluarga, insiden tersebut berlangsung cukup lama. RBA diduga mendapatkan pukulan pada bagian wajah, kepala, rusuk, tangan hingga kaki.

Keluarga juga mempertanyakan penanganan korban setelah kejadian. Mereka menyebut RBA tidak langsung mendapatkan pemeriksaan medis secara memadai dan masih berada di lingkungan kamar yang sama dengan siswa yang diduga terlibat selama beberapa hari.

Orang tua korban, AFN dan FTN, mengaku baru mendapatkan informasi dari pihak sekolah pada Kamis malam, 20 Agustus 2026, atau sekitar lima hari setelah kejadian.

Setelah menerima kabar tersebut, keduanya langsung mendatangi asrama dan membawa RBA pulang. Sesampainya di rumah, korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

AFN mengatakan kondisi anaknya cukup mengkhawatirkan setelah kejadian.

“Anak kami sampai muntah darah usai dikeroyok selama satu jam pada malam hari. Saat berwuduk untuk Shalat Subuh, anak kami juga sempat muntah darah dan hal itu diketahui pihak sekolah,” ujar AFN.

Ia menyebut penanganan yang diberikan saat itu sebatas mengompres bagian tubuh yang lebam menggunakan batu es serta mengoleskan minyak kayu putih.

Selain kondisi fisik, keluarga mengungkapkan bahwa RBA juga mengalami tekanan setelah kejadian. Korban disebut sempat meminta pindah kamar karena merasa takut dan trauma, tetapi permintaan tersebut tidak dikabulkan.

Keluarga juga menyebut korban tidak diperbolehkan menghubungi orang tuanya melalui telepon.

Berawal dari Candaan

Berdasarkan kronologi yang disampaikan keluarga, persoalan bermula pada Sabtu siang, 15 Agustus 2026. Saat itu RBA dan AGB, siswa yang berada di kamar berbeda, terlibat candaan dengan saling bermain ludah.

Situasi kemudian berkembang pada malam hari. Sekitar pukul 20.30 WIB, sejumlah siswa mendatangi tempat tidur RBA dan mempertanyakan kejadian yang berlangsung siang sebelumnya.

Dalam keterangan keluarga, ARF kemudian menanyakan alasan RBA meludahi AGB. RBA menjelaskan bahwa AGB merupakan temannya dan kejadian tersebut hanya bercanda.

Namun, menurut keterangan korban kepada keluarga, ARF kemudian memukul wajah RBA berulang kali. Pukulan tersebut selanjutnya diduga diikuti sejumlah siswa lain.

RBA disebut mengalami pukulan di bagian wajah, kepala, rusuk, tangan dan kaki.

Keluarga juga menyebut terdapat siswa yang diduga berusaha menutup lokasi kejadian dengan selimut setelah menyadari adanya kamera CCTV.

Sejumlah siswa lain yang berada di dalam kamar disebut tidak berani melakukan tindakan karena merasa takut.

Dalam kondisi tersebut, korban diduga diperintahkan turun ke lantai dalam posisi tengkurap dan mendapatkan perlakuan verbal yang membuatnya semakin ketakutan.

Aksi tersebut sempat berhenti setelah pihak asrama melalui pengeras suara meminta seluruh kamar mematikan lampu sekitar pukul 21.00 WIB. Namun, berdasarkan keterangan keluarga, dugaan pemukulan kembali terjadi setelah lampu utama dimatikan.

Peristiwa tersebut disebut berlangsung lebih dari setengah jam dan berhenti ketika kondisi korban sudah lemah.

Korban Muntah Darah Saat Berwudu

Pada Minggu, 16 Agustus 2026, RBA yang disebut masih menahan rasa sakit kemudian pergi ke tempat wudu menjelang pelaksanaan Salat Subuh berjamaah.

Saat berwudu, korban dilaporkan mengalami batuk dan kemudian muntah darah.

Usai Salat Subuh, seorang guru melihat bagian bawah mata kiri RBA dalam kondisi lebam dengan warna hitam kehijauan. Ketika ditanya mengenai kondisi tersebut, korban awalnya mengatakan wajahnya terbentur tembok.

Namun, setelah melihat kondisi fisik dan cara berjalan RBA yang disebut tidak normal, guru tersebut kembali menanyakan kejadian sebenarnya.

RBA akhirnya mengungkap bahwa dirinya diduga telah dikeroyok. Informasi tersebut kemudian diketahui pihak sekolah.

Meski demikian, menurut keluarga, korban masih tetap berada di lingkungan asrama dan tidak langsung dipindahkan dari kamar.

Korban kembali meminta agar dipindahkan ke kamar lain karena merasa takut, tetapi permintaan tersebut disebut tidak dikabulkan.

Disebut Mendapat Ancaman

Persoalan kembali berlanjut pada Senin, 17 Agustus 2026. RBA disebut kembali mengalami muntah. Namun, korban tetap mengikuti kegiatan perlombaan dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan karena siswa disebut tidak diperbolehkan berada di asrama.

Pada sore hari, keluarga menyebut RBA kembali mendapatkan ancaman dari salah seorang siswa yang diduga terlibat dalam kejadian sebelumnya.

Karena takut kembali menjadi korban pada malam hari, RBA disebut masuk ke kamar dan berpura-pura tidur dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.

Pada Selasa, 18 Agustus 2026, korban akhirnya diperbolehkan tidak mengikuti kegiatan sekolah dan beristirahat di kamar.

Dalam kondisi kesakitan, RBA disebut mendatangi kamar seorang guru sambil menangis. Ia meminta izin meminjam telepon untuk menghubungi orang tuanya.

Menurut keluarga, guru tersebut kemudian menenangkan korban, mengantarkannya kembali ke kamar dan membantu mengoleskan minyak kayu putih.

Pada Selasa sore, ketika mengetahui klinik asrama sedang memberikan pelayanan, RBA disebut berinisiatif mendatangi tempat tersebut untuk mendapatkan pengobatan.

Saat itu, korban mengeluhkan rasa sakit di sekujur tubuh, lebam pada wajah dan pinggang, muntah serta pusing.

Sehari kemudian, Rabu, 19 Agustus 2026, kondisi RBA disebut belum membaik sehingga tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah. Pihak asrama kemudian membawa korban mendapatkan pengobatan di fasilitas kesehatan atau tempat praktik dokter.

Keluarga menyebut biaya pengobatan tersebut dibebankan kepada korban.

Keluarga Resmi Melapor ke Polres Solok

Pada Kamis, 20 Agustus 2026, RBA disebut masih mengalami pusing dan muntah. Meski demikian, korban tetap masuk sekolah karena melihat sejumlah siswa yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tidak berada di sekolah.

Menurut keluarga, korban khawatir jika berada sendirian di asrama, dirinya kembali mengalami kejadian serupa.

Pada malam harinya sekitar pukul 20.30 WIB, pihak asrama akhirnya menghubungi keluarga mengenai kondisi RBA.

AFN dan FTN kemudian datang menjemput anak mereka. Setelah sampai di rumah, RBA menceritakan kejadian yang dialaminya kepada kedua orang tuanya.

Keluarga selanjutnya membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

Sehari setelahnya, Jumat, 21 Agustus 2026, keluarga membuat laporan resmi ke Polres Solok terkait dugaan pengeroyokan tersebut.

Laporan itu tercatat dalam STPL Nomor LP/B/78/VIII/2026/SPKT/POLRES SOLOK/POLDA SUMATERA BARAT, tertanggal 21 Agustus 2026.

Selain melapor kepada kepolisian, keluarga korban juga menyampaikan pengaduan kepada Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Solok.

AFN mengatakan laporan tersebut telah ditindaklanjuti kepolisian dengan mendatangi lokasi kejadian serta mengamankan rekaman CCTV.

“Laporan kami langsung ditanggapi oleh pihak Polres Solok dengan mendatangi lokasi kejadian dan mengamankan rekaman CCTV. Saat ini prosesnya sedang berjalan,” kata AFN, Rabu, 16 September 2026.

Korban Pindah Sekolah

Pasca kejadian, keluarga akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan RBA ke sekolah lain.

Namun, keluarga mengaku kecewa terhadap sanksi yang disebut diberikan pihak sekolah kepada sejumlah siswa yang diduga terlibat.

Menurut AFN, lima siswa disebut hanya mendapatkan Surat Peringatan Pertama (SP1). Sementara ARF, yang disebut keluarga sebagai salah satu siswa yang diduga menjadi otak aksi, mendapatkan tambahan sanksi berupa skorsing selama satu minggu.

AFN menilai kejadian serupa bukan kali pertama menjadi persoalan di sekolah tersebut. Ia juga menyebut keluarga menerima sejumlah cerita dari orang tua siswa lain terkait dugaan perundungan di lingkungan sekolah.

“Beberapa waktu lalu juga sempat mencuat bahwa salah seorang guru melakukan tindakan kekerasan kepada salah seorang siswa di asrama. Kami banyak mendapatkan dukungan moral dari orang tua yang anaknya pernah mendapatkan perundungan di sekolah Al Madinah,” ujarnya.

Keluarga juga menyampaikan adanya cerita mengenai siswa yang disebut mengalami trauma dan mendapatkan penanganan profesional. Namun, informasi tersebut merupakan keterangan dari keluarga dan belum diverifikasi secara independen.

Disdikpora Siapkan Pemeriksaan Lapangan

Kepala Disdikpora Kabupaten Solok Elafki, S.Pd., MM., melalui Kepala Bidang Sekolah Menengah Pertama (Kabid SMP), Endra, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pengaduan dari orang tua RBA.

Endra mengatakan pihaknya telah meminta klarifikasi dari pihak SMP Al Madinah terkait persoalan tersebut.

“Pengaduan dari pihak keluarga sudah kami terima dan klarifikasi dari pihak sekolah juga sudah. Berikutnya, kami segera melakukan pemeriksaan lapangan di sekolah tersebut dan melaporkan hal ini kepada pimpinan,” ujar Endra.

Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan baik serta menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

“Untuk proses hukum yang kini sedang berlangsung di Polres Solok, kita serahkan sepenuhnya kepada hukum yang berlaku,” katanya.

Sekolah Belum Memberikan Klarifikasi

Sementara itu, pihak SMP Al Madinah Islamic Boarding School melalui Wakil Ketua Yayasan, Agung Ivano Putra, menyatakan akan menyiapkan jawaban dan klarifikasi mengenai dugaan pengeroyokan tersebut.

Namun, berdasarkan bahan berita yang dihimpun, hingga berita diterbitkan pihak sekolah belum memberikan jawaban maupun klarifikasi setelah dihubungi pada Kamis pagi, 17 September 2026.

Kasus dugaan pengeroyokan tersebut masih dalam proses penanganan kepolisian. Di sisi lain, Disdikpora Kabupaten Solok juga menyatakan akan melakukan pemeriksaan lapangan untuk memperoleh keterangan secara langsung dari pihak-pihak terkait.

Catatan: Seluruh tuduhan pengeroyokan, perundungan, ancaman, serta penanganan korban dalam berita ini masih berupa dugaan dan keterangan dari keluarga korban, kecuali bagian yang secara eksplisit dinyatakan telah dikonfirmasi oleh pihak terkait. Proses hukum dan klarifikasi dari pihak sekolah masih berjalan. (ZULPANCER)

Berita Terkait

Kabut Asap Mengepung Kabupaten Solok, Pantai Cermin Terpapar Pekat, Pemerintah Diminta Bertindak
Es Srotot Pahlawan Digemari Masyarakat Sampang
SMKN 2 Sampang Gelar Acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/ 2026 M di Aula Sekolah
KBB Kembali Gelar Sedekah Jumat, Eko Yudis Parlin Rajagukguk Dukung Kepedulian untuk Warga Belawan
Sat Res Narkoba Polres Sergai Tangkap Seorang Pria Diduga Pengedar Sabu, Sejumlah Barang Bukti Disita
Kinerja Reformasi Birokrasi Gemilang, Imigrasi Belawan Sabet Penghargaan dari Kanwil Ditjen Imigrasi Sumut
Kapolres Binjai Perintahkan Penindakan 3C, Terduga Pelaku Curat Berhasil Diciduk Satreskrim
Bisnis Kos Jadi Fokus, Pengembang PT PAS JAVA PROPERTI Jajaki Odoo di Odoo Business Show Medan
Berita ini 3 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 18 September 2026 - 14:06 WIB

Kabut Asap Mengepung Kabupaten Solok, Pantai Cermin Terpapar Pekat, Pemerintah Diminta Bertindak

Jumat, 18 September 2026 - 10:56 WIB

Siswa SMP Al Madinah Diduga Jadi Korban Pengeroyokan di Asrama, Keluarga Tempuh Jalur Hukum

Kamis, 17 September 2026 - 10:17 WIB

Es Srotot Pahlawan Digemari Masyarakat Sampang

Rabu, 16 September 2026 - 12:20 WIB

SMKN 2 Sampang Gelar Acara Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/ 2026 M di Aula Sekolah

Selasa, 15 September 2026 - 19:00 WIB

KBB Kembali Gelar Sedekah Jumat, Eko Yudis Parlin Rajagukguk Dukung Kepedulian untuk Warga Belawan

Berita Terbaru