Bekerja dengan tim di zona waktu berbeda

Redaksi

Minggu, 9 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bekerja dengan orang di negara lain jarang gagal karena perbedaan bahasa. Yang lebih sering menjadi sumber kekacauan adalah selisih jam — dan kekacauan itu hampir selalu berbentuk sama: rapat yang dijadwalkan pada jam tidur seseorang, tenggat yang berakhir sehari lebih cepat dari yang dikira, dan pertanyaan yang menunggu dua belas jam sebelum dijawab.

Berhenti menyebut jam tanpa zona

Kalimat “besok jam sembilan” adalah sumber kesalahan paling murah yang bisa dihindari. Sebutkan zonanya, atau lebih baik lagi, sebutkan dua zona sekaligus: jam sembilan pagi di Jakarta, jam sepuluh pagi di Singapura. Menuliskan keduanya memakan tiga detik dan menghapus seluruh kemungkinan salah tafsir.

Untuk undangan rapat, gunakan kalender yang menyimpan zona waktu, bukan sekadar teks di pesan. Kalender akan menyesuaikan tampilan bagi masing-masing orang; teks tidak.

Cari irisan jam yang benar-benar ada

Antara Indonesia dan Eropa Barat, irisan jam kerja yang wajar biasanya hanya dua sampai tiga jam di sore hari. Dengan pantai barat Amerika, irisannya nyaris tidak ada tanpa seseorang mengorbankan pagi buta atau larut malam.

Kalau irisannya sempit, jangan menghabiskannya untuk laporan yang bisa ditulis. Simpan jam berharga itu untuk hal yang memang butuh percakapan: keputusan yang belum jelas, perbedaan pendapat, dan hal yang lebih cepat selesai lewat suara daripada tulisan.

Tulis lebih banyak daripada biasanya

Di kantor yang sama, pertanyaan kecil selesai dengan menoleh. Lintas zona waktu, menoleh berarti menunggu setengah hari. Karena itu kebiasaan menulis lengkap menjadi penentu kecepatan kerja — bukan kerapian.

Cara sederhana yang berhasil: setiap kali mengajukan pertanyaan, sertakan sekaligus keadaan yang Anda hadapi, apa yang sudah Anda coba, dan dua kemungkinan jawaban yang Anda pikirkan. Dengan begitu balasan yang datang sudah berupa keputusan, bukan pertanyaan balik yang memulai putaran menunggu berikutnya.

Bergiliran menanggung ketidaknyamanan

Kalau rapat rutin selalu jatuh pada jam yang nyaman bagi satu pihak dan menyusahkan bagi pihak lain, kekesalan akan menumpuk tanpa pernah diucapkan. Menggeser jadwal secara bergantian setiap beberapa minggu membagi bebannya, dan lebih penting lagi, menunjukkan bahwa ketidaknyamanan itu disadari.

Perhatikan perubahan waktu musim panas

Indonesia tidak mengenal pergeseran waktu musiman, tetapi banyak negara lain menerapkannya. Akibatnya, selisih jam dengan mitra Anda bisa berubah satu jam dua kali setahun tanpa ada yang memberi tahu. Rapat yang selama ini berjalan mulus tiba-tiba bergeser, dan biasanya baru disadari setelah ada yang tidak hadir.

Pencegahannya: jadwalkan lewat kalender dengan zona waktu, bukan dengan jam tetap yang ditulis manual. Kalender akan ikut bergeser; catatan manual tidak.

Yang membuat kerja lintas zona waktu berhasil bukan aplikasi tertentu, melainkan kesediaan menuliskan hal-hal yang di kantor biasa cukup diucapkan. Itu terasa berlebihan pada minggu pertama, dan terasa wajar pada bulan kedua.

Berita Terkait

​Mengapa Aksi Mahasiswa Kalteng di Kantor Gubernur Adalah Ujian Nyata Demokrasi Kalteng
Menjaga Independensi Pers di Tengah Kuasa Trias Politica
Menguji Adab dan Akuntabilitas: Ketika Suara Mahasiswa Kalteng Dibungkam Narasi “Sopan Santun”
OPINI: Menguji Ketajaman Tone Policing Yanto Eko Saputra – Ketika Amarah Rakyat Hanya Dibalas Imbauan Kesopanan
Ketika Rakyat Didera Asap, Gubernur Kehilangan Respek: Potret Krisis Empati dan Panggung Sembako di Kalteng
Kenapa harga barang yang sama berbeda jauh antar negara
Menyiapkan perjalanan pertama ke luar negeri
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:42 WIB

​Mengapa Aksi Mahasiswa Kalteng di Kantor Gubernur Adalah Ujian Nyata Demokrasi Kalteng

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Menjaga Independensi Pers di Tengah Kuasa Trias Politica

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Menguji Adab dan Akuntabilitas: Ketika Suara Mahasiswa Kalteng Dibungkam Narasi “Sopan Santun”

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:26 WIB

OPINI: Menguji Ketajaman Tone Policing Yanto Eko Saputra – Ketika Amarah Rakyat Hanya Dibalas Imbauan Kesopanan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Ketika Rakyat Didera Asap, Gubernur Kehilangan Respek: Potret Krisis Empati dan Panggung Sembako di Kalteng

Berita Terbaru