​Mengapa Aksi Mahasiswa Kalteng di Kantor Gubernur Adalah Ujian Nyata Demokrasi Kalteng

Jhonfri Ariyantho, SH

Jumat, 23 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Palangkaraya/23/10/2026/

Aksi demonstrasi yang digelorakan aliansi mahasiswa bersama elemen masyarakat sipil dan organisasi kemasyarakatan (ormas) di depan Kantor Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) bukan sekadar riak politik tahunan. Di tengah kepungan krisis ekologis yang saban tahun merenggut hak hidup warga dan kebuntuan komunikasi politik di daerah, aksi ini adalah alarm darurat: menagih ketegasan serta akuntabilitas negara yang kian kabur.

1. Menolak Normalisasi Bencana: Dari Isu Lingkungan ke Kejahatan Kemanusiaan

Selama bertahun-tahun, masyarakat Kalteng dipaksa menerima kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sebagai “musibah takdir”. Udara bersih terenggut, anak-anak terpapar ISPA, dan urat nadi perekonomian daerah lumpuh.

Mahasiswa dan masyarakat hadir menolak pembiasan narasi tersebut. Tuntutan yang disuarakan di lapangan sangat tajam dan tidak bisa ditawar:

  • Penegakan Hukum Berkeadilan: Menindak tegas korporasi pemilik konsesi pembakar lahan, bukan sekadar menjadikan peladang tradisional sebagai sasaran empuk penegakan hukum.
  • Transparansi Mitigasi & Anggaran Bencana: Menghentikan pola penanganan reaktif yang baru sibuk saat asap mengepul, serta menuntut jaminan layanan kesehatan gratis dan responsif bagi korban terdampak.
  • Evaluasi Total Tata Kelola Lahan: Membuka data izin konsesi serta efektivitas Satgas Bencana secara transparan kepada publik.

2. Sinergi Taktis vs. Ancamam Pemecah Belah (Counter-Demonstration)

Bergabungnya ormas adat dan elemen kearifan lokal bersama mahasiswa memberi bobot tekanan politik yang jauh lebih besar (bargaining position). Ketika legitimasi akademis kampus menyatu dengan jeritan akar rumput, narasi perjuangan tidak lagi terisolasi di ruang kuliah, melainkan menjadi gerakan sosial yang solid.

Namun, dinamika ini juga membukakan mata publik akan ancaman yang lebih halus: upaya pengebirian demokrasi melalui manipulasi ormas.

  • Di satu sisi, ormas pro-rakyat hadir memperkuat barisan penuntut keadilan.
  • Di sisi lain, fenomena hadirnya narasi tandingan, oknum pembajak agenda, hingga potensi gertakan kelompok bentukan elite (counter-group) sengaja dihadirkan untuk mendegradasi aksi moral ini menjadi kesan “bentrok antar-warga” atau sekadar “demo anarkis”.

Publik dan media massa harus jeli melihat pembelahan ini. Mendedikasikan dukungan pada mahasiswa berarti menjaga agar fokus tuntutan tidak terkikis oleh permainan opini pihak-pihak penikmat status quo.

3. Ujian Keterbukaan Pemprov Kalteng

Sikap birokrasi—baik itu lambannya respons, alotnya ruang audiensi, hingga ketidakhadiran pejabat utama di lapangan—memperlihatkan indikasi pudar akuntabilitas publik.

Demonstrasi adalah hak konstitusional. Gubernur beserta jajarannya tidak sepatutnya menyikapi gelombang protes secara defensif atau berlindung di balik balik barikade pengamanan. Pejabat publik bertindak sebagai pemegang mandat yang wajib membuka data, menjawab kritik secara konkrit, dan menandatangani komitmen penyelesaian krisis secara terbuka.

Kesimpulan: Mengawal Tuntutan hingga Pintu Kebijakan

Aksi di Kantor Gubernur Kalteng telah menegaskan garis batas: rakyat tidak bisa lagi dininabobokkan oleh retorika dan janji manis di atas kertas.

Konsistensi aliansi mahasiswa dan ormas adalah benteng terakhir dalam menyelamatkan Kalteng dari krisis lingkungan dan kebebalan tata kelola. Tugas kolektif kita—pers, akademisi, dan seluruh warga—adalah memastikan bahwa setiap poin tuntutan aksi tidak menguap seiring bubarnya massa, melainkan bermuara pada perubahan kebijakan yang nyata./Jhonfri.A

Berita Terkait

siswa kelas 4 sd di petarukan diduga takut ke sekolah akibat perlakuan guru, orang tua minta perhatian serius
Menjaga Marwah Bumi Tambun Bungai: Kepemimpinan Berakar Tradisi, Melangkah Menuju Masa Depan
Polemik Penjaringan Perangkat Desa Memanas: Pelapor Belum Mampu Buktikan Dugaan Pelanggaran
Dugaan Kejanggalan Dapodik TK Tunas Ceria Soi’iwa: Jumlah Guru Gemuk Tapi Siswa Minim, Operator Berdalih Hanya Cari Pengalaman Kerja
Semangat Baru Pemuda Nagari Saniang Baka, Terang Jalan, Tumbuh Harapan.
Dugaan Asal-Asalan, Proyek Revitalisasi SD Negeri Gunung Ratu Disorot Memakai Material Non-SNI dan Abaikan K3
Kapolres Gede: Polisi Bukan Hanya Penegak Hukum, tetapi Harus Bermanfaat bagi Masyarakat
KEBAKARAN MELANDA PERUMAHAN JAHARUN PERMAI KECAMATAN GALANG BEBERAPA RUMAH TERBAKAR API BERHASIL DIPAMKAN
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:05 WIB

siswa kelas 4 sd di petarukan diduga takut ke sekolah akibat perlakuan guru, orang tua minta perhatian serius

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 01:12 WIB

Menjaga Marwah Bumi Tambun Bungai: Kepemimpinan Berakar Tradisi, Melangkah Menuju Masa Depan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 00:10 WIB

Polemik Penjaringan Perangkat Desa Memanas: Pelapor Belum Mampu Buktikan Dugaan Pelanggaran

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:53 WIB

Dugaan Kejanggalan Dapodik TK Tunas Ceria Soi’iwa: Jumlah Guru Gemuk Tapi Siswa Minim, Operator Berdalih Hanya Cari Pengalaman Kerja

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:26 WIB

Semangat Baru Pemuda Nagari Saniang Baka, Terang Jalan, Tumbuh Harapan.

Berita Terbaru