OPINI: Mau Sebut Saya “Dalang”? Silakan! Mahasiswa Memang Harus Bergerak

Jhonfri Ariyantho, SH

Sabtu, 24 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Jhonfri Ariyantho,SH

Belakangan ini, suara bising kembali meramaikan panggung publik. Setiap kali gerakan mahasiswa turun ke jalan menyuarakan kritik, nada-nada sumbang yang sama selalu diputar berulang-ulang seperti kaset rusak: “Ini pasti ada penunggangnya,” “Ini gerakan untuk menjatuhkan pemerintahan Gibran,” atau “Ada oknum yang memotori anak-anak muda ini.”

Sungguh sebuah logika yang kerdil dan kekanak-kanakan.

Seolah-olah di mata para oknum pengamat dan buzzer tersebut, adik-adik mahasiswa tidak memiliki akal budi, empati, dan nurani sendiri untuk melihat realitas di masyarakat. Seolah-olah mereka adalah boneka tanpa otak yang hanya bisa bergerak kalau ada remote control-nya. Narasi ini bukan cuma dangkal, tetapi juga bentuk penghinaan terhadap daya kritis pemuda-pemudi yang sedang berjuang menyuarakan kebenaran.

Saya Bukan Orang Politik, Tidak Punya Niat Berkuasa

Mari saya pertegas sejak awal: saya bukan orang politik. Saya tidak punya partai, tidak punya agenda merebut kursi pejabat, dan sama sekali tidak memiliki kepentingan elektoral.

Satu-satunya “kepentingan” saya adalah melihat hukum dan keadilan berjalan di rel yang benar, serta memastikan kekuasaan tetap diawasi agar tidak melenceng.

Jadi, untuk para oknum yang terbiasa berpikir dengan kacamata transaksi politik: jika kalian dengan gampang menuduh dan menunjuk hidung saya sebagai “penggerak”, “pemotor”, atau “dalang” di balik aksi demo mahasiswa—silakan! Saya tidak peduli dan tidak ada masalah sedikit pun dengan label itu.

Jika mendukung kebenaran dan berdiri bersama anak-anak muda yang berani bersuara dianggap sebagai “penggerak”, maka dengan bangga saya terima tuduhan itu. Lebih baik dituduh penggerak demonstrasi daripada menjadi penonton penakut yang membebek pada kekuasaan.

Mengapa Demo Mahasiswa MESTI dan HARUS Dilakukan?

Kenapa saya mendukung penuh aksi adik-adik mahasiswa ini? Karena kondisi di lapangan memang menuntut mereka untuk bergerak. Mereka tidak turun ke jalan tanpa alasan:

  1. Biaya Pendidikan yang Makin Mencekik: Adik-adik mahasiswa merasakan langsung bagaimana mahalnya biaya kuliah dan fasilitas pendidikan yang tidak sebanding. Pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi hak seluruh anak bangsa kini makin berjarak dari rakyat kecil.
  2. Kondisi Ekonomi Rakyat yang Berat: Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Mereka melihat orang tua mereka dan rakyat di sekelilingnya kesulitan menghadapi harga bahan pokok yang terus melambung dan makin sempitnya lapangan pekerjaan.
  3. Penyimpangan dan Pengawasan Kekuasaan: Tanpa adanya kontrol dari jalanan, pemerintahan—siapa pun pemimpinnya, termasuk pemerintahan Gibran—akan sangat mudah tergelincir dalam rasa nyaman dan kesewenang-wenangan. Sejarah bangsa ini mencatat bahwa perubahan besar dan kontrol kekuasaan tidak pernah lahir dari ruang-ruang ber-AC yang dipenuhi kata-kata manis penjinak rakyat.

Mahasiswa adalah benteng terakhir harapan publik. Ketika wakil rakyat sering kali sibuk bernegosiasi di balik layar, jalanan menjadi panggung satu-satunya di mana kebenaran bisa disuarakan secara murni tanpa filter kepentingan politik.

Hentikan Narasi Paranoia!

Pesan saya kepada oknum-oknum yang hobi melemparkan narasi “penunggangan”: berhentilah bersikap paranoid.

Alih-alih sibuk mencari siapa “aktor intelektual” atau siapa “pemotornya” untuk membelokkan isu, mulailah belajar mendengarkan apa yang mereka suarakan. Jawab tuntutan mereka mengenai ekonomi, pendidikan, dan keadilan, bukan malah memfitnah niat murni mereka.

Kepada adik-adik mahasiswa: tetaplah bergerak, bersuara, dan mengawal keadilan. Selama langkah kalian murni untuk kepentingan rakyat, jangan pernah gentar dengan tuduhan dan stempel apa pun dari mereka yang panik melihat kebenaran.

Jika mereka terus mencari-cari siapa penggeraknya, katakan pada mereka: Nurani, rasa empati, dan keadilanlah yang menggerakkan kita! (Jhon)

 

Berita Terkait

.Bongkar Mafia Solar Subsidi di Kempas! Polres Inhil Amankan 3 Tersangka, 19 Jerigen Disita
pemalang tegaskan perang terhadap bullying! 1.800 insan pendidikan teken pakta integritas, nurkholes: tak boleh ada toleransi kekerasan
Laporan Dugaan Pengeroyokan terhadap Bambang Sunardi Menggantung, Kinerja Polsek Sungai Pagu Dipertanyakan
siswa kelas 4 sd di petarukan diduga takut ke sekolah akibat perlakuan guru, orang tua minta perhatian serius
Menjaga Marwah Bumi Tambun Bungai: Kepemimpinan Berakar Tradisi, Melangkah Menuju Masa Depan
Polemik Penjaringan Perangkat Desa Memanas: Pelapor Belum Mampu Buktikan Dugaan Pelanggaran
Dugaan Kejanggalan Dapodik TK Tunas Ceria Soi’iwa: Jumlah Guru Gemuk Tapi Siswa Minim, Operator Berdalih Hanya Cari Pengalaman Kerja
​Mengapa Aksi Mahasiswa Kalteng di Kantor Gubernur Adalah Ujian Nyata Demokrasi Kalteng
Berita ini 21 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:11 WIB

.Bongkar Mafia Solar Subsidi di Kempas! Polres Inhil Amankan 3 Tersangka, 19 Jerigen Disita

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:06 WIB

pemalang tegaskan perang terhadap bullying! 1.800 insan pendidikan teken pakta integritas, nurkholes: tak boleh ada toleransi kekerasan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 14:13 WIB

OPINI: Mau Sebut Saya “Dalang”? Silakan! Mahasiswa Memang Harus Bergerak

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 09:55 WIB

Laporan Dugaan Pengeroyokan terhadap Bambang Sunardi Menggantung, Kinerja Polsek Sungai Pagu Dipertanyakan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 08:05 WIB

siswa kelas 4 sd di petarukan diduga takut ke sekolah akibat perlakuan guru, orang tua minta perhatian serius

Berita Terbaru