Arosuka, Kabupaten Solok — Dua hari setelah banjir bandang atau galodo menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, suasana di tengah warga masih menyisakan cerita tentang detik-detik menegangkan ketika bencana datang secara tiba-tiba.
Warga Perumahan Investama, Jorong Batang Barus, menceritakan bagaimana suara gemuruh menjadi pertanda datangnya galodo yang mereka sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam dua dekade terakhir.
Deny, warga Perumahan Investama, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 19.45 WIB, setelah dirinya selesai melaksanakan salat Isya.
“Saya habis salat Isya, kemudian terdengar suara geluduk-geluduk cukup keras,” ujar Deny saat menceritakan kembali suasana malam ketika galodo menerjang.
Menurutnya, warga sebenarnya sudah terbiasa melihat kondisi sungai mengalami kenaikan ketika hujan deras turun. Namun, selama sekitar 20 tahun terakhir, kondisi tersebut tidak pernah sampai seperti yang terjadi kali ini.
“Selama 20 tahun terakhir, ini galodo paling besar yang pernah kami hadapi. Biasanya sungai ini hanya naik sedikit. Walaupun hujan deras semalaman, paling air naik sedikit dan masih lancar,” tuturnya.
Namun malam itu berbeda.
Hujan yang berlangsung sekitar dua jam justru diikuti datangnya banjir bandang dengan kekuatan yang mengejutkan warga.
“Sekarang beda. Hujan hanya sekitar dua jam, langsung terjadi bencana,” kata Deny.
Kesaksian serupa juga disampaikan Nanda, anggota Linmas Perumahan Investama. Menurut warga, suara gemuruh yang datang dari arah aliran sungai membuat suasana malam berubah dalam waktu singkat.
Bagi masyarakat yang telah lama bermukim di kawasan tersebut, kejadian itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sungai yang selama ini dianggap sebagai bagian dari lingkungan tempat mereka tinggal, malam itu berubah menjadi ancaman ketika debit air meningkat secara tiba-tiba.
Cerita mengenai dahsyatnya galodo juga datang dari Roza Yolanda Syahril, warga Jorong Koto Gaek. Ia turut merasakan dan menyaksikan situasi yang terjadi saat bencana menerjang kawasan tersebut.
Peristiwa ini juga kembali mengingatkan masyarakat terhadap sejarah galodo di kawasan Arosuka dan sekitarnya.
Menurut catatan yang disampaikan warga, kejadian galodo kali ini disebut sebagai galodo kedua yang tercatat dalam sejarah kawasan tersebut. Galodo sebelumnya disebut pernah terjadi pada 1964.
Dengan demikian, peristiwa yang terjadi kali ini tidak hanya meninggalkan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan warga, tetapi juga menjadi bagian dari catatan sejarah bencana di wilayah Arosuka.
Dua hari setelah kejadian, ingatan warga tentang suara gemuruh pada malam itu masih begitu kuat. Bagi mereka, hujan deras yang sebelumnya dianggap sebagai kondisi biasa kini meninggalkan kewaspadaan baru.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kondisi alam dapat berubah dalam waktu singkat, sehingga kewaspadaan masyarakat dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar aliran sungai dan kawasan rawan banjir bandang. (ZulPancer)














Komentar