PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru melihat indikasi awal dampak positif dari uji coba teknologi dry ice atau es kering yang untuk pertama kalinya diterapkan di Sumsel sebagai salah satu upaya membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia pun meminta agar proyek percontohan (pilot project) tersebut terus dilanjutkan.
Permintaan itu disampaikan Herman Deru saat menelepon langsung Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni dari Griya Agung.Dalam percakapan tersebut, Herman Deru melaporkan perkembangan awal penerapan teknologi dry ice sekaligus menanyakan kepastian kelanjutan pendanaannya.
Menurut Herman Deru, kondisi langit pada pagi itu mulai terlihat lebih cerah setelah teknologi tersebut diterapkan. Karena itu, ia berharap dukungan pembiayaan untuk proyek percontohan ini tidak dihentikan.
“Pak Menteri, dry ice itu seperti sudah ada menampakkan hasil. Pagi ini agak cerah. Tapi, Pak Menteri, izin melaporkan, apakah pendanaannya benar-benar dipindahkan ke Kemenhut?” ujar Herman Deru saat menelepon.
Herman Deru menegaskan bahwa penerapan teknologi dry ice perlu terus dilanjutkan agar dampaknya terhadap penanganan kabut asap akibat karhutla dapat diketahui lebih jauh.
“Jadi, ini pilot project, jangan berhenti, Pak, karena ini sudah terlihat hilal kebaikannya, Pak,” katanya.
Saat diwawancarai awak media, Herman Deru kembali menekankan pentingnya melanjutkan penerapan teknologi tersebut untuk melihat dampaknya secara lebih optimal. Ia berharap dry ice dapat membantu memperbaiki kondisi udara dan mempercepat berkurangnya kabut asap yang menyelimuti Sumsel.
Untuk memastikan perkembangan kondisi di lapangan, Herman Deru akan meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel memperbarui data kualitas udara setelah pelaksanaan operasi dry ice sehari sebelumnya.
“Saya tidak tahu masyarakat merasakan atau tidak, tapi ini kondisi yang sedikit membaik. Kalau ini (dry ice) diteruskan, mudah-mudahan ada dampaknya,” ujarnya.












Komentar