SOLOK,SUMATERA BARAT. LIPUTANKHUSUS.COM — Enam puluh dua tahun bukanlah perjalanan singkat bagi sebuah kekuatan politik. Partai Golongan Karya (Golkar), yang memperingati hari jadinya pada 20 Oktober 2026, telah melewati berbagai babak sejarah politik Indonesia.
Bagi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Solok, Mukhlis, S.H., yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, Golkar tetap menjadi jalan perjuangan politik untuk mengabdi, memperjuangkan aspirasi rakyat, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah. Peringatan HUT ke-62 tersebut berlangsung pada Selasa, 20 Oktober 2026, sementara berita ini ditulis pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Politik Harus Memberikan Manfaat Nyata
Bagi Mukhlis, makna perjuangan politik tidak berhenti pada jabatan dan kedudukan. Lebih dari itu, politik merupakan ruang pengabdian yang menuntut tanggung jawab, keberanian memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta kesediaan mendengarkan suara rakyat.
“Golkar adalah jalan perjuangan politik dari dulu hingga sekarang. Berjuang melalui Golkar bukan semata-mata untuk mendapatkan posisi atau jabatan, tetapi bagaimana memperjuangkan kepentingan masyarakat, menyerap aspirasi rakyat, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah,” demikian pesan yang menggambarkan semangat perjuangan Mukhlis dalam momentum HUT ke-62 Partai Golkar.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan masyarakat merupakan amanah yang tidak boleh dipandang ringan. Setiap kader yang memperoleh kepercayaan melalui proses demokrasi dituntut membuktikan komitmennya melalui kerja nyata, bukan hanya melalui pernyataan dan kegiatan seremonial.
Sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Solok, Mukhlis memiliki tanggung jawab dalam memperkuat organisasi, menjaga soliditas kader, dan membangun komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat. Sementara itu, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok, perjuangan aspirasi masyarakat juga berkaitan dengan pelaksanaan fungsi dan tanggung jawab lembaga legislatif.
62 Tahun Golkar, Sejarah Panjang yang Penuh Dinamika
Perjalanan Golkar berawal dari berdirinya Sekretariat Bersama Golongan Karya atau Sekber Golkar pada 20 Oktober 1964. Organisasi tersebut menghimpun berbagai kelompok fungsional dan organisasi kemasyarakatan dari beragam latar belakang dalam kehidupan sosial Indonesia.
Golkar kemudian berkembang menjadi salah satu kekuatan politik utama nasional. Pada Pemilihan Umum 1971, Golkar meraih dukungan besar dan menjadi kekuatan dominan pada masa Orde Baru.
Perubahan besar terjadi ketika Indonesia memasuki era Reformasi pada 1998. Sistem politik yang semakin terbuka menghadirkan tantangan baru bagi Golkar untuk menyesuaikan diri dengan demokrasi multipartai. Deklarasi Partai Golongan Karya pada 7 Maret 1999 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan transformasi organisasi tersebut sebagai partai politik di era Reformasi.
Sejarah itu menunjukkan bahwa Golkar telah melewati beragam perubahan politik nasional. Namun, bagi partai politik yang ingin terus memperoleh kepercayaan masyarakat, sejarah panjang harus berjalan beriringan dengan pembaruan, keterbukaan, dan kemampuan menjawab kebutuhan rakyat.
Golkar Kabupaten Solok dan Tantangan Pengabdian
Di Kabupaten Solok, momentum HUT ke-62 menjadi kesempatan bagi keluarga besar Partai Golkar untuk memperkuat kebersamaan dan mengevaluasi arah perjuangan organisasi.
Konsolidasi internal penting, tetapi kehadiran kader di tengah masyarakat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab politik.
Masyarakat membutuhkan wakil rakyat yang mampu mendengar persoalan secara langsung, menyampaikan aspirasi melalui jalur yang tepat, dan memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan umum.
Pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, pendidikan, serta penguatan ekonomi masyarakat merupakan sejumlah bidang yang membutuhkan perhatian berkelanjutan.
Dalam menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan, DPRD memiliki peran strategis dalam memastikan kebijakan daerah berjalan sesuai ketentuan dan memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, aspirasi rakyat perlu menjadi salah satu pertimbangan utama dalam proses pengambilan keputusan.
Bagi kader partai, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mempertahankan eksistensi organisasi, melainkan membuktikan bahwa keberadaan partai memberikan manfaat bagi masyarakat. Kepercayaan publik tumbuh ketika masyarakat melihat adanya kepedulian, tanggung jawab, dan hasil perjuangan yang nyata.
Jangan Berhenti pada Seremoni, Teruslah Berkarya
Peringatan HUT ke-62 Partai Golkar semestinya tidak hanya menjadi agenda tahunan untuk mengenang perjalanan organisasi. Momentum ini juga menjadi pengingat bagi seluruh kader bahwa perjuangan politik menuntut konsistensi, kedisiplinan, dan komitmen untuk mendahulukan kepentingan masyarakat.
Bagi Mukhlis dan keluarga besar DPD Partai Golkar Kabupaten Solok, semangat kekaryaan perlu terus diterjemahkan ke dalam pengabdian yang relevan dengan tantangan zaman. Soliditas organisasi harus diperkuat, komunikasi dengan masyarakat harus dijaga, dan perjuangan politik harus tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat.
Pada akhirnya, usia panjang sebuah partai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ukuran yang lebih mendasar adalah sejauh mana partai mampu menjaga kepercayaan masyarakat, melahirkan kader yang bertanggung jawab, serta mengambil bagian dalam pembangunan dan kesejahteraan rakyat.
Selamat HUT ke-62 Partai Golongan Karya, 20 Oktober 1964–20 Oktober 2026.
Golkar adalah jalan perjuangan politik dari dulu hingga sekarang. Terus berkarya, mengabdi, dan berjuang bersama rakyat demi Indonesia yang lebih maju dan Kabupaten Solok yang semakin sejahtera.( Yef/DS)













Komentar