Liputankhusus.com SAMPANG – Di Alumni SMANSA 88 teman kita Beeyy Yazid dikenal sebagai siswa yang paling sumbu pendek alias mudah sekali marah. Senggol sedikit saat berjalan di koridor, dia langsung menatap tajam dengan urat leher yang menegang. Menanyakan pertanyaan yang sama dua kali saja bisa membuatnya langsung “ngegas” dan berteriak *dibik dibik*
Sebagian besar teman sekelas memilih untuk menjauhinya karena malas berurusan dengan emosinya. Namun, tidak dengan Bang J ( Chol Pajhuh ) Sebagai ketua kelas sekaligus sebangkunya, Chol Pajhuh terpaksa harus sering berinteraksi dengan Beeyy Yazid
Suatu hari, ada tugas kelompok untuk membuat mind map. Beey Yazid an Chol Pajhuh dipasangkan bersama dua teman lainnya, Jumadi dan Bambang. Baru saja diskusi dimulai, suasana langsung memanas.”Ide kalian jelek semua! Pakai konsepku saja!” bentak Beeyy Yazid sambil menggebrak meja hingga mengejutkan seisi kelas. Bambang mono yang tidak terima langsung menyahut, “Kamu egois banget sih, Beeyy apa-apa harus dituruti!” jelasnya
Beey berdiri, wajahnya memerah karena amarah, lalu dia mengemas tasnya dan melangkah pergi keluar kelas begitu saja sambil membanting pintu. Jumadi dan Bambang menghela napas panjang, bersiap mengadukan kelakuan Beeyy ke guru piket. Namun, Chol Pajhuh menahan mereka. “Biar aku yang susul dia,” kata Chol Pajhuh tenang.
Chol Pajhuh mencari ke beberapa sudut sekolah dan akhirnya menemukan Beeyy sedang duduk sendirian di bangku belakang dekat lapangan basket, menatap tanah dengan napas yang masih memburu. Chol Pajhuh duduk di sebelahnya tanpa mengeluarkan suara, memberikan waktu bagi Beeyy untuk tenang.
Setelah beberapa menit keheningan, Chol Pajhuh membuka suara dengan lembut, “Ada masalah di rumah, Beeyy? Kamu belakangan ini kelihatan capek banget.”
Pertanyaan sederhana itu ternyata meruntuhkan pertahanan Beeyy..bahunya yang tegang langsung merosot. Beeyy menunduk, dan tanpa disangka, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku minta maaf, Chol,” bisik Beeyy lirih. “Setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ibuku sedang sakit keras di rumah sakit, dan ayahku harus bekerja lembur setiap hari untuk biaya berobat. Di rumah, aku harus mengurus adik-adikku sendirian. Aku rasanya stres, frustrasi, dan tidak tahu harus meluapkan ke mana. Akhirnya di sekolah, hal-hal kecil saja langsung membuatku meledak.” terang Beeyy
Chol mendengarkan dengan penuh empati. Ia menyadari bahwa amarah Beeyy bukanlah karena dia membenci teman-temannya, melainkan sebuah jeritan minta tolong dari seorang anak yang memikul beban terlalu berat di pundaknya.
“Kenapa tidak cerita dari awal, Beeyy? Kita kan teman,” kata Chol Pajhuh sambil menepuk pundak Beeyy “Kami tidak akan tahu kalau kamu diam saja. Mulai sekarang, kalau kamu merasa lelah atau emosimu mau meledak, cerita ke aku. Jangan dipendam sendiri.”
Beeyy mengangguk dan mengusap air matanya. Hari itu menjadi titik balik bagi Beeyy. Ketika mereka kembali ke kelas, Beeyy dengan tulus meminta maaf kepada Jumadi dan Bambang mono atas sikap kasarnya. Teman-temannya yang akhirnya memahami situasi Beeyy justru berbalik memberikan dukungan.
Meskipun sifat sensitif Beeyy tidak hilang dalam semalam, dia mulai belajar mengendalikan emosinya karena tahu dia tidak lagi menghadapi bebannya sendirian. …
…singkat cerita saat ini Beeyy Yazid suka humor atau belajar humor meski tidak lucu…*setidaknya menghibur diri*…dan sudah menemukan *icon percakapan di group WastApp Alumni SMANSA 88 dengan ….dibik..dibik*
Cerita ini hanya narasi fiksi yang tidak dijamin kebenarannya…tapi soal *dibik dibik ,..dia mengadopsi dari kata – kata hari ini dari sang Jurnalis 24 Jam …Bang J atau Chol Pajhuh*
*Salam …dibik …dibik BERSAMBUNG* 🤣🤣 🤣🙏🙏🙏
( Bang J )













Komentar