Padang Panjang, LiputanKhusus — PT Kereta Api Indonesia terus mematangkan langkah strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan transportasi rel di Sumatra Barat. Jajaran Direksi KAI menegaskan komitmen untuk mereaktivasi jalur kereta api nonaktif sepanjang 248,5 kilometer. Jalur tersebut nantinya terintegrasi sebagai bagian dari jaringan besar Kereta Trans Sumatra.
Sebagai langkah awal eksekusi megaproyek ini, pemerintah mengucurkan alokasi investasi awal sebesar Rp300 miliar. Anggaran tersebut fokus penuh untuk mendanai persiapan teknis, kajian kelayakan, serta perbaikan infrastruktur pada segmen-segmen prioritas utama.
Roadmap Reaktivasi 248,5 Km Dibagi Beberapa Tahap
Berdasarkan roadmap resmi dari direksi KAI, setelah pencanangan segmen Kayu Tanam–Padang Panjang sepanjang 15,3 kilometer, pengerjaan rute kelanjutan berikutnya terbagi ke dalam beberapa tahapan prioritas. Tahapan tersebut meliputi:
Selanjutnya jalur Naras–Sungai Limau sepanjang 6,5 Km. Kemudian jalur Padang Panjang–Batutaba 18 Km. Setelah itu Batutaba–Solok 34 Km. Lalu Solok–Muarakalaban 24 Km. Bahkan pembangunan interkoneksi menuju segmen Muarakalaban–Sawahlunto serta rute historis Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh–Limbanang.
Transformasi Perkeretaapian Sumbar Reaktivasi Jalur dan Gapeka Baru
Di samping rencana jangka panjang tersebut, KAI Divisi Regional II Sumatra Barat juga mengumumkan penyegaran layanan operasional melalui pemberlakuan Grafik Perjalanan Kereta Api terbaru yang efektif berjalan mulai 1 Desember 2026.
Gapeka 2026 Berlaku 1 Desember Buka Shelter Kampung Jua
Penerapan Gapeka 2026 ini membawa kabar baik bagi mobilitas masyarakat dengan dibukanya titik pemberhentian baru, yaitu Shelter Kampung Jua. Shelter ini melayani perjalanan KA Pariaman Ekspres rute Pauhlima–Naras guna mempermudah akses transportasi warga sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi sektor UMKM di wilayah sekitar.
Meski frekuensi perjalanan harian untuk KA Pariaman Ekspres, KA Lembah Anai, dan KA Minangkabau Ekspres tetap beroperasi normal, manajemen KAI mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Calon penumpang harus memeriksa kembali jam keberangkatan pada tiket secara berkala melalui aplikasi Access by KAI. Hal tersebut penting mengingat adanya pergeseran menit jadwal imbas dari penyesuaian grafik operasional yang baru.
Langkah transformasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi pengalihan logistik daerah yang ramah lingkungan. Langkah ini juga mampu membangkitkan kembali urat nadi perekonomian dan pariwisata di Ranah Minang. (Hk)













Komentar