Oleh: Jamrani
Indragiri Hilir, 2 November 2026
KATEMAN, INDRAGIRI HILIR — Kondisi infrastruktur dan fasilitas publik di Desa Sari Mulya, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), kembali menjadi sorotan tajam. Pasalnya, bangunan Kantor Desa Sari Mulya yang seharusnya menjadi pusat pelayanan administrasi dan tumpuan masyarakat kini terbengkalai, rusak parah, hingga dijuluki warga sebagai “sarang hantu”.
Temuan ini mengemuka setelah awak media Liputankhusus.com melakukan peninjauan langsung ke lapangan pada Senin (2/11/2026). Selain persoalan kantor desa yang tak bisa difungsikan, warga setempat juga dihadapkan pada beratnya tantangan infrastruktur jalan yang hancur, terputus saat air pasang, serta puluhan rumah warga yang kerap terendam banjir rob.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, kompleks fasilitas umum di desa tersebut mulanya dirancang untuk mencakup tiga fungsi penting dalam satu bangunan berukuran 9 x 20 meter. Bangunan ini dibagi menjadi gedung Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk layanan kesehatan, serta bagian yang dialokasikan sebagai kantor desa.
Namun, harapan masyarakat agar fasilitas ini dapat menunjang kehidupan berdesa justru bertepuk sebelah tangan. Salah seorang tokoh masyarakat setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap lambatnya penanganan dari pemerintah.
> “Kantor itu jadi sarang hantu. Kami tahu, tanya saja masyarakat, memang berhantu, Pak,” ujar narasumber tersebut kepada awak media, menggambarkan betapa terbengkalainya bangunan yang sudah lama dibiarkan tanpa perawatan itu.
Ia mempertanyakan sampai kapan pelayanan pemerintahan desa harus terus menumpang dan menghadapi keterbatasan fasilitas. Menurutnya, kantor desa yang layak adalah hak dasar masyarakat agar urusan administrasi kependudukan dan kemasyarakatan dapat berjalan dengan tertib dan bermartabat.
“Apakah pihak pemerintah kecamatan dan kabupaten tidak memperhatikan kondisi ini? Kantor desa itu tempat masyarakat mengurus keperluan. Kalau kantor yang seharusnya menjadi tempat pelayanan saja tidak memadai, bagaimana masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang maksimal?” tambahnya dengan nada tanya.
Menanggapi sorotan publik tersebut, Kepala Desa Sari Mulya, Amir, memberikan klarifikasi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler. Amir tidak menampik bahwa kantor desa di bawah kepemimpinannya memang belum pernah difungsikan sejak hari pertama ia menjabat.
Menurut Amir, kerusakan bangunan tersebut sudah terjadi jauh sebelum masa jabatannya dimulai. Berdasarkan hasil pengecekan yang ia lakukan bersama warga, struktur bangunan dinilai sudah tidak layak dan tidak memungkinkan untuk direhabilitasi kembali karena kondisi tiang-tiang besi penyangga yang sudah keropos dan lapuk dimakan usia.
“Sebenarnya kantor sebelum zaman saya sudah begitu. Saya periksa, kata warga tidak bisa direhab lagi karena tiang besinya sudah lapuk. Waktu itu anggaran desa untuk kantor belum dapat. Setiap musrenbang saya utamakan, tapi belum juga dapat sampai sekarang,” ungkap Amir.
Kendati kerusakan tersebut merupakan warisan masalah dari periode sebelumnya, masyarakat tetap mendesak adanya solusi konkret dari pemerintah desa. Warga berharap ada langkah proaktif, seperti penyediaan tempat pelayanan sementara (kantor darurat), agar roda pemerintahan dan pelayanan publik tidak lumpuh total.
Ancaman Banjir Pasang dan Jalan Rusak Parah
Persoalan di Desa Sari Mulya tidak berhenti pada mandeknya fungsi kantor desa. Sektor transportasi dan permukiman warga turut menghadapi ancaman serius akibat buruknya infrastruktur jalan dan hantaman air pasang (rob).
Sekretaris Desa (Sekdes) Sari Mulya, Raup, saat dikonfirmasi mengamini keluhan warga terkait kondisi infrastruktur dasar yang sangat memprihatinkan. Ia menyebutkan bahwa akses jalan poros di desa tersebut mengalami kerusakan berat hingga terputus total setiap kali air pasang naik. Dampaknya tidak hanya melumpuhkan mobilitas ekonomi warga, tetapi juga merendam pemukiman penduduk.
“Jalan pun hancur, putus saat air pasang, rumah warga pun terendam,” ujar Raup ringkas.
Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Terputusnya jalur transportasi darat menghambat distribusi kebutuhan pokok anak-anak sekolah, aktivitas petani, serta memperlambat penanganan darurat apabila ada warga yang sakit mendadak.
Desakan Agar Pemkab Inhil dan Kecamatan Turun Tangan
Melihat akumulasi persoalan yang pelik mulai dari kantor desa yang mangkrak dan disebut “sarang hantu”, tiang bangunan lapuk, jalan hancur, hingga rumah warga yang terendam banjir tokoh masyarakat bersama jajaran perangkat desa mendesak agar Pemerintah Kecamatan Kateman dan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir tidak tinggal diam.
Masyarakat menuntut adanya langkah-langkah taktis dari pemerintah daerah, di antaranya:
Pemeriksaan Teknis Bangunan: Melibatkan dinas teknis terkait untuk mengaudit apakah gedung eksisting masih bisa diselamatkan atau harus dilakukan pembongkaran total dan pembangunan ulang (rebuilding).
Kejelasan Anggaran Musrenbang: Membuka transparansi terkait sejauh mana usulan rehabilitasi atau pembangunan kantor desa yang selama ini diajukan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) ditindaklanjuti di tingkat kabupaten.
Perbaikan Infrastruktur Jalan dan Mitigasi Banjir Rob: Mengalokasikan dana darurat atau program pembangunan infrastruktur untuk meninggikan badan jalan yang kerap terendam serta membangun talud atau drainase untuk melindungi rumah warga dari terjangan air pasang.
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya meminta tanggapan resmi serta konfirmasi lanjutan dari pihak Kecamatan Kateman dan instansi terkait di lingkungan Pemkab Indragiri Hilir. Warga Desa Sari Mulya kini hanya bisa berharap agar keluhan yang telah lama disuarakan ini segera mendapatkan perhatian nyata demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir tersebut.













Komentar